Sebenarnya ini adalah tulisan yang saya kirim untuk semacam buku obituari
guna mengenang Mas Farouq Barlian, Sekretaris Pribadi KHMA. Sahal Mahfudh Roi’is
Aam Syuriyah PBNU. Tetapi sampai hari ini saya belum mendapatkan kabar apakah buku
tersebut jadi diterbitkan atau tidak. Jadi saya mohon maaf jika dipandang telah
mempublish secara premature atau apalah istilahnya. Khususnya kepada Kyai Umar
Faroeq yang telah meminta saya secara langsung.
Mas Faroeq Barlian di Mata, Fikiran, dan Hati Saya
Sebelumnya
saya mohon maaf jika catatan singkat tentang Mas Faroeq Barlian dari saya ini
tidak sebagaimana harapan panitia, dan membuat pembaca tidak berkenan
karenanya. Ya, Rabu malam 22 Desember 2010—saya tidak ingat persis jam berapa,
yang pasti saat itu saya belum salat isya—sahabat saya Gus Syaiful Akhyar mengirim SMS tentang sebuah
peristiwa yang sungguh berat, dan tidak bisa tidak, tak mungkin kami semua elak. Ingin rasanya
malam itu juga saya bergegas, segera berkumpul bersama orang-orang yang
mencintai dan menghormatinya, tapi karena sesuatu dan lain hal, saya tidak
sampai memaksakan keinginan. Bahkan sampai saat catatan curcol ini saya
tulis dan kirimkan ke panitia, keinginan yang terus menggelegak itu masih
berusaha saya redam.
Mas
Faroeq, begitu saya selalu memanggilnya, adalah sosok yang sangat bersahaja. Baginya,
simple live simple problem. Untuk seorang penikmat lagu-lagu Michael
Jackson dan film-film Hollywood yang cenderung ngepop, sekilas memang
terkesan kontradiktif. Tapi ternyata tidak demikian, karena sosok yang
kosmopolit ini ternyata juga sangat menyadari akar budayanya yang bersandar
pada empan papan. Contoh sederhana dari sikap hidupnya ini adalah ketika
dia memberi nama putra pertamanya: Rahardian Muhammad. Sebagaimana kata sahaja
yang bersinonim dengan kata saja, Rahardian pun sesungguhnya bisa diubah
menjadi Raden. Dan Mas Faroeq memilih yang pertama sebagai nama putra sulungnya,
tentu tidak mungkin tanpa pertimbangan dan alasan.
Menjelang
keberangkatannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, disela-sela perjalanan
dari kediaman saya menuju kedubes Arab Saudi di Jakarta Timur, dan waktu
menunggu kedatangan sahabat Shalahuddin Al-Ayyubi yang sama-sama mengurus
administrasi bersamanya, saya kembali mengulik konsistensi kebersahajaan Mas
Faroeq. “Meski sampeyan sama sekali tidak memperdulikan hal-hal yang
semacam itu, tapi begitu pulang nanti, tetap saja sampeyan akan saya panggil
sebagai Mas Haji Faroeq Barlian.” Dan dia pun tersenyum, setelah sebelumnya
berusaha menyembunyikan maksud dan tujuannya saat meminta saya mengantarkannya ke
kantor kedutaan ini.
Catatan
terakhir saya tentang kebersahajaan Mas Faroeq berlangsung di Darul Hadhonah,
dalam suasana Idul Fithri beberapa bulan yang lalu. Menjelang senja itu, saya
bersama istri, Muhammad Ghufron Wahid dengan kedua putrinya, dan Sidqon
Famulaqih, bercengkerama bersama dengan Mas Faroeq dan Mba Syafu’ah (istri Mas Faroeq) di ruang tamu. Ketika sahabat Sidqon bertanya
siapa nama putra bungsu Mas Faroeq, saya langsung menjawab: Alan Laksamana.
Spontan Sidqon bercanda, “Nama putra pengajar di Perguruan Islam Mathali’ul
Falah kok lam wa la, tidak berbau Arab dan tidak pula Jawa?” Dan Mas
Faroeq dengan senyumnya yang khas menjawab, “Masa di zaman sekarang ini anak
saya harus saya kasih nama Paijo, kerenan dikit dong…”
Begitulah
catatan singkat ihwal kebersahajaan Mas Faroeq di mata saya. Ada pun dalam
fikiran, mungkin karena sosoknya yang berkacamata, saya mengimajinasikannya
sebagai tokoh Prof. Lang Ling Lung dalam cerita Donal Bebek. Tentu saja sebatas
ilustrasi karikatural yang positif sebagaimana cerita fiksi bergambar yang
sudah sangat populer dan mendunia itu. Ya, dalam komunitas bebek rekaan Walt
Disney, Prof. Lang Ling Lung adalah sosok ilmuwan yang konservatif dan baik
hati. Sebagian besar waktunya tercurah untuk melakukan penelitian dan membantu sesama
melalui persembahan karya-karyanya.
Tahun
1989, ketika saya baru beberapa bulan duduk di kelas II Aliyah di Mathali’ul
Falah, bisa jadi memang merupakan periode paling menentukan dalam hidup saya
selanjutnya. Saat itu hampir-hampir saya tak lagi memiliki kepercayaan diri
untuk bergaul dengan orang-orang pintar seperti Mas Faroeq, setelah terpaksa menyelesaikan
pendidikan formal secara premature dan kemudian hijrah ke Jakarta. Namun
pada sebuah kesempatan, saat saya pulang kampung, Mas Faroeq mengajak saya
menonton film berjudul Robinhood yang dibintangi oleh Kevin Costner. Dan
seperti biasa, sekeluar kami dari gedung bioskop dia memaparkan apreasiasinya
tanpa saya minta, dan membuat saya kian terkesima terhadap keutuhan film
tersebut sebagai sebuah karya seni yang berupaya memvisualkan sejarah manusia dan
kemanusiaan dengan penuh kejujuran.
“Penjara
dan perang, bisa mengubah watak seseorang,” begitu salah satu penggalan dialog
tokoh Robinhood dalam film itu. Dan spiritnya pun kemudian saya jadikan semacam
“pil keberanian” yang pernah diciptakan oleh Prof. Lang Ling Lung melalui
kinerja mesin Pil-O-Matik ciptaannya yang digunakan untuk membesarkan hati
Donal Bebek yang nyaris kehilangan kepercayaan diri. Dan semenjak itu, saya pun
kian merasa dekat dengan Mas Faroeq dan keluarga kecilnya. Bahkan di mana pun
keluarga kecil ini pindah rumah, hampir semuanya pernah saya inapi. Dan
belakangan, saat saya mulai aktif mengikuti berbagai kajian dan rutin mengisi
acara di radio, bagi saya Mas Faroeq adalah ensiklopedi berjalan. Dan belum pernah
sekalipun SMS saya tidak dibalas atau telefon dari saya tidak diangkatnya, saat
saya merepotkannya dengan menanyakan ini dan itu sebagai bahan.
Menempuh
pendidikan formal dalam waktu yang sangat singkat di Mathali’ul Falah telah
mendekatkan saya dengan sahabat-sahabat seperti Gus Qomaruddin, Gus Syaiful Akhyar, Kyai Umar Farouq, Sidqon Famulaqih, Mas Solekul Hadi, Marwan Ja’far,
Muhammad Shodiq Noor, Ning Badriyah Fayumi, Gus Ulil Abshar Abdalla, Gus Rozin dan
sahabat-sahabat lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Dan di
antara beragam pemikiran sahabat-sahabat saya yang potensial itu, buat saya,
Mas Faroeq Barlian adalah katalisator.
Ya,
ketika saya terlalu hanyut oleh progresivitas pemikiran Gus Ulil, atau sedang
risau dengan sepak terjang sahabat-sahabat yang menjadi politisi, bahkan
mengeluhkan karut marut berbagai anomali di negeri ini yang kait mengkait dan
terus berputar-putar bagai lingkaran setan, Mas Faroeq adalah oase yang
senantiasa memberikan kesejukan dan optimisme kepada saya dalam menatap masa
depan.
Laku
hidup Mas Faroeq sepanjang kesaksian saya adalah cerminan keteguhan atas ucapan
sayyidina ‘Ali karama’llahu wajhah, “Al-jaza’u at’abu mina al-shabri.”
Bahwa berkeluhkesah hakikatnya memang lebih berat dibanding ketika kita harus
bersabar. Dengan lisan hal-nya, Mas Faroeq memberikan pesan yang tegas
akan pentingnya kesabaran menjalani setiap proses sebagai sebuah solusi. “Dalam
kesabaran kita berkesempatan untuk memaksimalkan semua potensi yang ada di
dalam diri kita sendiri, tapi saat berkeluhkesah sesungguhnya kita tengah
menuntut orang lain, atau bahkan menggugat Tuhan yang sudah jelas-jelas
Mahaadil dalam menetapkan segala sesuatu bagi hamba-hamba-Nya.” Demikianlah imajinasi
dan fikiran saya jika laku hidup Mas Faroeq Barlian harus saya potrait dan verbalkan
dalam sebuah kalimat.
Dan
dalam hati saya, Mas Faroeq akan senantiasa hidup dan terus hidup. Karena
sebagaimana pesan sebuah syair klasik, “Falaa ta’duwdi al-mawlaa syariykuka
fi al-ghiynaa, walakinnama al-mawlaa syarikuka fiy al-‘udmi!” Ya, Mas
Faroeq Barlian adalah sahabat saya di saat-saat sulit, dan tidak pernah sekalipun
menampakkan kesulitannya di hadapan saya. Padahal saya tahu pasti bahwa di
dunia ini tidak seorang pun yang bisa terhindar dari kesulitan. Ya ayyatuha
al-nafsu l-muthmainnah, irji’iy ila rabbiki raadliyatan mardliyah…
Selamat
jalan Mas Faroeq… Kami semua akan menyusulmu insyaa’llah…
Bintaro,
13 Februari 2011.
Tidak banyak yang menulis tentang beliau Pak, karena memang beliau sosok hebat yang tak menampakkan diri. Wajar jika dunia belum banyak mengenalnya. Saya termasuk yang mengagumi beliau sebagai Guru, selama di Mathole dulu.
BalasHapusSemoga kita bisa meneladani beliau
BalasHapus