Selasa, 05 Juli 2011

Transparansi Wujud Tuhan

Ketika aktivitas ranjang yang dulu dianggap saru, karena bersifat sangat privat dan personal, kini bisa dinikmati laiknya sebuah tontonan bagi orang lain. Bahkan di sela-sela tugas kenegaraan dalam gedung dewan yang katanya terhormat itu pun dapat dilakukan sebagai selingan untuk menghibur diri sendiri. Masa kita masih harus sembunyi-sembunyi ketika harus membicarakan “Dzat” atau tepatnya Wujud Tuhan yang telah sedemikian terang benderang itu?

Meski demikian, sebelum memasuki kompleksitas pembahasan dalam buku Makrifat Jawa Untuk Semua, terlebih dahulu saya tetap mengutip beberapa paragraf dari kitab-kitab klasik yang saat ini bisa diakses secara terbuka oleh siapa saja. Di antaranya; Seratus Kalimah Imam ‘Ali—yang ternyata lebih tua dari Nahj al-Balaghah, Al-Qisthas al-Mustaqim,  Al-Risalah al-Ladunniyah, Rawdlah al-Thalibiyn wa ‘Umdah al-Saalikiyn, Misykah al-Anwar , dan lain sebagainya. Dan di bawah ini adalah kutipan saya tentang qawa’id al-aqa’id dari opus magnum al-Ghazali yang kutipannya juga saya sertakan dalam buku tersebut,  yaitu kitab Ihya Ulumu al-Din:

“Hakikat sesuatu secara dzati merupakan sebuah pengetahuan yang mendalam dan tidak dapat diketahui oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya dan mereka dilarang untuk menyebarkan kepada selain ahlinya, untuk menghindari fitnah yang timbul karena dangkalnya pemahaman. Di antara rahasia yang masuk ke dalam kategori ini adalah tentang ruwh. Karena itu, Rasulullah saw tidak berkenan menjelaskannya. Hakikat ruwh merupakan sesuatu yang tak terjangkau nalar, dan imajinasi terlalu lemah untuk melukiskannya. Namun dengan berdiam dirinya Rasulullah, tidak berarti bahwa beliau tak memahaminya. Ya, karena orang yang tidak mengetahui ruwh berarti tidak mengenal dirinya sendiri. Dan orang yang tidak mengenal dirinya sendiri berarti tidak akan pernah memahami Tuhannya.

Begitu juga dengan para wali dan ulama, meskipun bukan nabi, terkadang ruwh juga bisa tersingkap hakikatnya kepada mereka. Tetapi karena berpijak pada etika syariat, mereka tidak mau membicarakan apa-apa yang tidak dibahas secara umum oleh Rasulullah. Termasuk sifat-sifat Allah yang Mahaluhur dan Mahaagung yang tersembunyi, yang tak kan pernah terjangkau oleh pemahaman sebagian besar umat manusia.

Dalam hal sifat-sifat Allah, Rasulullah hanya menyebutkan sifat-sifat-Nya yang tampak jelas dan terjangkau oleh nalar, seperti sifat Mahamengetahui dan Mahakuasa. Dan khalayak umum memahami sifat-sifat tersebut dalam bentuk yang bersesuaian, yang mereka korelasikan dengan gambaran pengetahuan dan kuasa mereka, karena secara umum mereka juga memiliki sifat yang bernama “tahu” dan “kuasa”. Umumnya mereka memahami sifat-sifat tersebut melalui penganalogian.

Seandainya Rasulullah saw. mengemukakan sifat-sifat Allah yang tidak ada padanannya dalam diri manusia, tentu mereka tidak akan bisa memahaminya. Jangankan masalah sifat Allah yang tersembunyi, bahkan nikmat senggama, jika diwartakan kepada anak kecil atau orang yang impoten sejak dini, tentu tidak akan dipahaminya secara benar. Anak kecil hanya akan memahaminya sebagai sebentuk kelezatan yang sepadan dengan kelezatan yang pernah dirasakannya, misalnya kelezatan makanan, dan itu bukan pengertian yang sebenarnya. Sedangkan perbedaan antara ilmu dan kuasa Allah dengan ilmu dan kuasa manusia jauh lebih besar daripada perbedaan antara nikmat senggama dan kelezatan makanan.

Singkat kata, manusia hanya bisa memahami diri dan sifat-sifat dirinya yang ada pada saat ini atau pernah dimilikinya di masa lalu. Dan dengan cara menganalogikan pada sifat-sifat dirinya inilah ia memahami sifat-sifat serupa yang dimiliki oleh yang lain. Kadang manusia juga membenarkan adanya perbedaan antara sifat-sifat yang dimilikinya tersebut dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh selain dirinya, baik dalam tingkat kemuliaan maupun tingkat kesempurnaannya.

Manusia hanya memiliki kemampuan menyifati Allah dengan sifat-sifat yang juga ada pada dirinya (seperti sifat mengetahui dan sifat kuasa), disertai keyakinan bahwa sifat-sifat yang melekat pada Allah itu lebih sempurna dan mulia daripada sifat-sifat yang dimilikinya. Dan dengan demikian, maksimal pengagungan-Nya lebih didasarkan pada sifat-sifat dirinya, bukan pada keagungan nyata yang benar-benar khusus milik Allah yang Mahatinggi. Karena itu, Rasulullah pernah memanjatkan doa, “Aku tidak bisa mencapai pujian untuk-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” Dengan ungkapan seperti ini, tidak berarti bahwa Rasulullah tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang diketahuinya, melainkan sebagai bentuk pengakuan akan keterbatasan manusia dalam mengetahui inti keagungan-Nya.

Ada sebagian ulama yang berkata, “Tidak ada yang tahu Allah secara hakiki selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Abu Bakar al-Shidiq berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan jalan bagi makhluk untuk mengenal-Nya selain melalui ketidakmampuan mengenal-Nya.”

“Hakikat sesuatu yang jika disebut secara jelas, pasti akan mudah dipahami dan tidak menimbulkan bahaya, namun sesuatu tersebut digambarkan secara metaforis dan simbolis. Tujuannya adalah supaya keberadaan rahasia itu lebih meresap dalam hati pendengar dan efeknya lebih bermanfaat. Contohnya adalah pernyataan, “Aku melihat si fulan mengalungkan permata di pundak babi.”

Ungkapan tersebut mengandung maksud bahwa mengajarkan atau menyampaikan ilmu dan hikmah selain kepada ahlinya, tak ubahnya mengalungkan permata ke pundak seekor babi. Namun bagi orang yang tidak memahami sebuah metafora, ia akan mengartikannya secara harfiah meskipun saat mendengar tidak terlihat olehnya akan keberadaan sebuah kalung permata maupun seekor babi. Berkenaan dengan rahasia yang semacam ini, manusia memiliki pemahaman yang berbeda-beda.

Salah satu bagian dari rahasia kategori ketiga ini adalah ungkapan seorang penyair:

dua orang sahabat
satu penjahit dan satunya seorang penenun
keduanya menghadapi pencari ikan yang tidak berkail
yang satu tidak berhenti menenun kain yang mundur
sahabatnya tekun menjahit kain yang maju

Penyair menggambarkan tentang sebab samawi dalam hal “datang” dan “pergi” melalui dua orang sahabat tersebut. Ungkapan semacam ini merupakan pengungkapan makna melalui bentuk bahasa yang memuat esensi makna terkait atau sinonimnya.

Ungkapan lain yang senada adalah sabda Rasulullah saw, “Sungguh, masjid mengerut dari dahak, seperti kulit mengerut di atas api.” Kita tentu bisa melihat bahwa lantai masjid tidak mengerut hanya karena terkotori oleh dahak. Hadis ini menyiratkan bahwa ruwh masjid sangat agung, dan meludah di lantai masjid merupakan tindakan pelecehan terhadap “kesucian”-nya. Dengan kalimat yang ditutur setelahnya, hadis ini bisa diartikan bahwa tempat sujud (penghambaan) yang disimbolkan sebagai kulit, akan menjauh dari api (neraka).

Contoh lainnya adalah sabda Rasulullah, “Apakah orang yang mengangkat kepalanya (dari ruku’) sebelum imam tidak takut kepalanya akan berubah menjadi kepala keledai?

Secara fisikal, perubahan kepala manusia menjadi kepala keledai itu tidak akan pernah terjadi. Namun dari segi makna, perubahan itu dimugkinkan. Yang dimaksud dengan kepala keledai dalam hadis tersebut bukanlah dalam bentuk fisik, melainkan karakter yang melekat padanya, yakni kedunguan. Orang yang mengangkat kepala mendahului imam saat shalat berjamaah, kepalanya benar-benar berubah dalam bentuk keledai. Artinya, orang yang mendahului imamnya adalah dungu, karena ia telah bertindak terlalu jauh, melebihi kewenangan yang seharusnya ia ikuti. Mengikuti dan mendahului merupakan dua tindakan yang saling berlawanan.

Rahasia yang terkandung dalam ungkapan semisal hadis di atas, yang berbeda dengan arti harfiahnya, bisa dipahami melalui argumentasi akal maupun syariat. Akal akan paham bahwa suatu ungkapan memiliki makna rahasia yang berbeda dari arti tekstualnya saat pemaknaan ungkapan secara apa adanya tidak mungkin dilakukan, sebagaimana sabda Rasulullah, “Hati orang mukmin berada di antara jemari Al-Rahman.” Kalaupun kita membedah hati orang-orang mukmin, tentu kita tidak mugkin menemukan jemari Allah di sekitarnya. Menghadapi kenyataan seperti ini, kita pun dapat memahami bahwa yang dimaksud dengan kata “jemari Allah” adalah “kuasa Allah”. Kata jari jemari digunakan sebagai metafora bagi adanya sebuah “kuasa”, agar pemahaman kita terhadapnya lebih sempurna.

Ungkapan serupa yang menggambarkan betapa Mahakuasanya Allah adalah firman-Nya dalam surah al-Nahl, “Sesungguhnya perkataan-Ku terhadap sesuatu apabila Aku menghendakinya, Aku hanya mengatakan kepadanya: Jadilah! Maka, jadilah ia (sesuai kehendak-Ku)” (QS 16:40). Secara tekstual, firman Allah ini tidak tepat. Sebab kata “Jadilah!” tidak mungkin ditujukan kepada sesuatu yang belum berwujud. Sungguh, “yang tidak ada” tidak mungkin bisa menerima perintah (khithab), sebelum dirinya mengada. Sedangkan jika kata “jadilah!” dalam ayat ini ditujukan pada sesuatu yang sudah ada, rangkaian kalimatnya menjadi tak bermakna. Karena, sesuatu yang sudah ada tentu tidak perlu lagi di-ada-kan. Namun, rangkaian kata dalam ayat ini tetap digunakan, untuk memberi kesan yang lebih mendalam pada manusia tentang kesempurnaan kuasa Allah.

Adapun suatu rahasia yang dipahami melalui dalil syara’ adalah, “Ungkapan yang arti tekstualnya memang bisa dipahami dan benar, tetapi ada beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud ungkapan tersebut bukan makna tekstualnya.” Contohnya adalah penafsiran terhadap firman Allah dalam surah al-Ra’d, “Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air ke lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang…” (QS 13:17). Dalam ayat ini, yang dimaksud dengan kata “air” adalah Al-Quran, sedangkan yang disebutkan sebagai “lembah-lembah” adalah hati. Dan bahwa hati tersebut, ada yang menampungnya dengan melimpah, ada yang menampungnya cuma sedikit, dan ada pula yang tidak menampungnya samasekali. Adapun kata “buih” menjadi metafora dari kekufuran dan kemunafikan. Dan buih, kalaupun tampak serta mengambang di permukaan air, ia tidak menetap dan tidak kokoh. Sementara hidayah, yang bermanfaat bagi manusia, akan senantiasa melekat dengan kuatnya.”


Berikutnya adalah sebuah cuplikan jagong di sebuah group FB Santri Kajen:

Syaifuddin Akhyas; BANYAK MANUSIA SEKARANG YANG TIDAK TERTARIK DENGAN TAWARAN MANISNYA SURGA,DAN TIDAK TAKUT DENGAN PANASNYA NERAKA DIKARENAKAN KERASNYA HATI..
June 21 at 6:44pm ·

Adjie Vickry; Bagaimana dg Sayyidina Ali yg ngendikan, "Mereka yg beribadah kepada Allah karena mengharapkan surga-Nya adalah para pedagang, dan mereka yg beribadah kepada Allah karena takut neraka-Nya adalah para budak." ?

Syaifuddin Akhyas; ampon Gusti beraaaat...heee June 23 at 5:41pm ·

Ahmad Thoufan Firdaus; itu tingkatan yg intinya sama aja kang vik... mau pedagang atau apapun maka dengan mengharap surga berarti mengharap ridho allah... June 24 at 2:42pm ·

Adjie Vickry; Jarene simbah, ridho Gusti iku otomatis kang Toufan... awak ndewe iso lahir koyo ngene iki kerana ridho Gusti, sing perlu disumprih jarene simbah: idzin Allah kang... ungkapan "provokatif"-nya kayak yg di Quan: "kam min fiatin qaliylatin ghalabat fiatan katsiratan biidzni 'llaah!" June 24 at 3:33pm ·

Ahmad Thoufan Firdaus; tapi ridhone kuwi karo ridho sing dimaksud mestine benten kang mas... June 24 at 3:37pm ·
Adjie Vickry Haha... mangkane niku kang, supados mboten bias, simbah lebih memilih idzin. Dg asumsi, yg biidzni-Hi otomatis dlm ridho-Nya kang... Mekaten ngendikanipun simbah, brkaitan dg pemahaman beliau atas "provokasi" Alquran ingkang kulo kutip wau... June 24 at 7:39pm ·

Ahmad Thoufan Firdaus; lamun ridho mesti pikantuk idzin.. lamun diidzini mesti diridhani... lha akhire podo wae kok... hehehehehehe.... artinya tingkatan mengharap ridho dan idzin allah atas surga dan jauh dari neraka, itu juga bermuara pada titik yg sama... June 28 at 1:31pm · UnlikeLike ·

Isma Fay; ilahi anta maqsudi waridloka mathlubi..nas'aluka ridloka waljannah..kang tofan yang tahu status riwayat do'a2 itu Thursday at 6:45am ·

Adjie Vickry; Raudlatul Jannah di sini sdh pernah menyelamatkan Akbar Tanjung, Gus...

Scr pribadi, dalem sdh muak dg para hamba Tuhan yg hanya berlindung di ketiak-Nya, sdh waktunya kita mengangkat kembali spirit Ki Ageng Suryomentaram yg menegaskan bhw k...halifah Tuhan mestilah seseorang yg berani menghadapi hidup ini, "Sak iki, ing kene, ngene, aku gelem!"
...
ngapuntene, isuk2 sampun kemrungsung niki. Bos yg terlihat santun itu, yg kmrn baru saja ngomong tdk sedang mempersiapkan siapa2 dr keluarganya untk melanggengkan dinasti, sbntr lg akan mengangkat iparnya sbg kasad. Lha, yg beginian ini bahasa opo to...
Jangan2 ia justru belajar dr para agamawan...See More Thursday at 7:42am ·

Ahmad Thoufan Firdaus; masih bagus berlindung di ketiak-Nya kang, dari pada diketiak ki joko bodo.. hehehehehhehehehe... Thursday at 2:29pm ·

Adjie Vickry; Yoyoi kang... hehe... Thursday at 2:39pm ·

Isma Fay; jangan - jangan nanti ada 'puserNya atau pantatNya' Friday at 9:19am ·

Adjie Vickry; Wah... episode itu bukannya tlh dituntaskan oleh Mulla Shadra, Gus... Setelah dg brillian beliau mensintesakan Isyraqiyahnya Suhrawardi dan Wahdatul Wujudnya Ibn Arabiy (?) Friday at 9:47am ·

Isma Fay; monggo..monggo..tafakkur tentang "dzat" , lastu ahlan bihi Friday at 9:55am ·

Adjie Vickry; Wah... Friday at 10:21am ·

Ahmad Thoufan Firdaus; hehehehehehehe... bid'ah... Friday at 4:32pm ·

Adjie Vickry; Lha kalau urusan ranjang yg dulu dianggap saru saja sekarang bisa ditonton di sela2 rapat DPR yg katanya terhormat itu, masak membahas gradasi (tasykik) wujud secara terbuka masih harus "ketakutan" dibid'ahkan ya kang Thoufan... haha...
*(nyuwun ngapunten njih Gus... Tabik...) Friday at 6:32pm ·

Isma Fay; logika ibnu arobi antara lain didasarkan pada kekhawatiran "takfiir" secara gegabah dari satu hamba ke hamba lainnya yang TERLANJUR menafsir 'dzat' secara mujassam (termasuk tuhan berketiak). Bagi yg belum (termasuk aku kang..) memilih tidak ikut2an..apalagi di fb. bagi yang terlanjur yaa harus berargumen yang cukup...he he Friday at 8:36pm ·

Adjie Vickry; Ini "pemanasan" dr sequel hikam sy yg kemarin Gus... Sinopsisnya kemarin sdh sy posting di sini. Judulnya: Makrifat Jawa Untuk Semua. Insyllh akan diterbitkan oleh Serambi sblm ramadhan niki... Pangestunipun njih... Friday at 8:49pm ·

Isma Fay; mugi2 pinaringan berkah kanthi IDZIN dan RIDLO-NYA Friday at 8:51pm ·

Adjie Vickry; Amin, Gus... Suwun. Friday at 9:23pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar